9 Sep 2012

Menaut, sekelumit aktifitas nelayan Sungai Barumun Kotapinang


kotapinang
sungai barumun di Kotapinang

   Malam sudah larut. Suasana Sungai Barumun Kotapinang Labuhanbatu Selatan telah sepi, berselimut hening dan gelapnya malam.  Riuh  suara bocah yang bermain di tepian  dan canda tawa ibu-bu dan remaja putri yang sedang mencuci tak terdengar lagi. Hanya desiran angin yang  bertiup menimbulkan suara gemercik air dan sesekali suara jangkrik dan binatang malam lainnya berteriak dari balik semak dan pepohonan di pinggir sungai.

    Samar-samar, di kejauhan sebuah titik cahaya berkelap-kelip di atas air. Persis kunang-kunang, terkadang muncul, terkadang hilang ditelan kegelapan. Terkadang diam, terkadang bergerak. Sebuah pemandangan yang masih misteri.  Cahaya itu terus berkelap-kelip semakin samar bergerak menjauh menyusuri arus sungai.

   Ternyata ditengah suasana gelap dan sepi itu, masih ada sebuah sisi kehidupan warga Kotapinang yang beraktifitas di sungai tersebut.  Seorang nelayan masih mengayuh sampan berusaha mencari rezeki. Malam yang kian larut tidak menghinggapinya dengan rasa kantuk.  Tanpa rasa lelah, ia terus berkayuh sembari  sesekali menyalakan penerangan senter yang terlihat seperti titik cahaya  dari kejauhan.

     Malam itu, merupakan malam peruntungan bagi sang nelayan. Upaya mencari nafkah yang jauh dari trend modern menebar puluhan joran di sepanjang tepian sungai sambil berharap menuai rezeki mendapatkan ikan.

   Sisi kehidupan nelayan tradisional di Kotapinang ternyata cukup menggetirkan. Hingga kini, segelintir nelayan yang masih bertahan dengan pekerjaannya, dihadapkan dengan kenyataan sungai barumun bukan seperti dulu lagi. Populasi  ikannya  sudah jauh berkurang.  Berbagai cara menangkap ikan, baik menggunakan pancing,  jaring, jala, bubu dan penilar tak memberi hasil yang memadai lagi bagi nelayan.  

   Sungai barumun yang mengalir di ibukota Kabupaten Labuhanbatu Selatan, selama ini memang sangat berarti bagi masyarakat. Terutama warga yang bermukim di tepiannya, banyak memanfaatkan sungai tersebut untuk keperluan sehari-hari. Mulai mandi, mencuci dan ada yang menggunakan sebagai air minum.

   Disisi lain, sungai Barumun juga sebagai lokasi mata pencaharian sebagian penduduk. Konon kabarnya, selain berladang, banyak juga warga yang bermukim di Kotapinang menjadi nelayan.  Pada masa itu,  sungai barumun merupakan lubuk ikan dan udang yang relatif banyak memberi rejeki bagi penduduk setempat.

    Pengalaman masa silam tentang banyaknya ikan di sungai Barumun, meski tinggal kenangan, namun masih sering menjadi cerita nostalgia sejumlah nelayan.  Tatkala mereka kedatangan tamu jauh dari luar kota, tak akan repot menjamu tamunya dengan menu hidangan ikan yang besar dan masih segar. Dengan bermodalkan  sebuah joran pancing, lalu memancing ke sungai barumun selama satu jam,  dipastikan akan mendapat ikan seperti baung, bince maupun udang gabak (udang galah) yang akan diolah menjadi masakan khas seperti gulai asam ikan baung dan bince. Hmm!  menu santapan yang sangat lezat buat tamu.

    Kini kenangan mengasyikkan itu tinggal cerita. Kehidupan nelayan telah jauh berubah. Bahkan banyak nelayan yang beralih pekerjaan ke bidang lain yang lebih menjanjikan untuk memenuhi nafkah keluarga. Seperti menjadi buruh kebun, buruh harian lepas, pekerja bangunan  hingga penarik beca.

    Nelayan yang tersisa kini sering mengeluh karena berkurangnya hasil tangkapan mereka. Ntah apa sebabnya, apakah karena semakin majunya lingkungan di sekitar sungai Barumun dan semakin banyaknya penduduk. Atau habitat ikan dan udang yang terganggu oleh berbagai aspek kehidupan lain  di sekitar sungai yang menekan perkembangbiakan ikan, sebuah issue yang perlu dikaji oleh pihak yang berkompeten.

  Persoalan di atas membuat sejumlah nelayan merasa getir untuk meneruskan dan menekuni usaha mencari ikan. Akibatnya, sebagaian nelayan menjadikan usaha tersebut sebagai kerja tambahan. Sedangkan nelayan yang masih bertahan, kini semakin jarang menggunakan jaring, jala maupun bubu untuk mencari rezeki. Yang bertahan hanya kegiatan memancing dengan cara menaut.

  Menaut  merupakan salah satu sisi kehidupan nelayan di sungai Barumun. Dari tahun ke tahun, pekerjaan menaut masih digeluti sejumlah nelayan secara turun temurun. Peralatan mereka  menaut sangat jauh dari trend teknologi dan malah sangat sederhana, berupa pancing dan perahu (sampan) tradisional.

    Pekerjaan menaut memang  identik dengan memancing. Namun caranya dengan jumlah joran yang banyak. Terkadang, setiap pergi menaut, seorang nelayan membawa joran yang cukup banyak mencapai 50 buah joran yang dilengkapi benang dan mata kail serta umpan.

    Jorannya cukup sederhana berupa ranting atau dahan kayu yang pipih dan kuat sepanjang kurang lebih 1,5 meter. Lalu di ujung joran diikatkan seutas benang nilon (benang pancing) ukuran besar (50-200 Lbs) serta diujung benang lainnya dililitkan sebuah mata pancing ukuran besar juga.

   Pada masa tertentu,  tatkala sungai Barumun meluap hingga  areal perkebunan penduduk, warga  dan penduduk beberapa desa di sekitar Kotapinang banyak menyempatkan menaut . Parit dan rawa di sekitar kebun penduduk akan ramai menjadi tempat menaut. Begitu juga parit-parit buatan di areal perkebunan milik beberapa perusahaan yang sering disebut “bekoan”(dibuat menggunakan beko),  sangat  digandrungi  untuk menaut. Umpannya biasanya cacing dan anak katak. Hasil menaut di parit dan bekoan ini, biasanya  memperoleh  ikan seperti gabus, lele, momah, limbat, betik atau puyu-puyu dan berbagai jenis ikan rawa lainnya.

    Sedangkan menaut di sungai barumun berbeda dengan menaut di parit maupun rawa. Peminatnya juga terbatas nelayan saja , sebab menaut di sungai membutuhkan perahu atau sampan sebagai sarana transfortasi menyebar joran pancing di sepanjang tepian sungai. Perbedaan lain adalah, Kalau di "bekoan" lebih sering dilakukan pada siang hari, sementara di sungai Barumun selain siang juga pada malam hari. Bahkan menurut mereka menaut malam hari lebih banyak hasilnya.

     Uniknya, kegiatan menaut di sungai barumun  selain menyiapkan joran, adalah mencari umpan, berupa anak ikan sungai yang kecil. Untuk mendapatkan umpan nelayan menggunakan tangguk atau penilar.  Anak ikan tersebut harus dalam kondisi hidup yang di tautkan pada mata pancing. Begitulah, setelah joran ditancapkan ditepi sungai, umpan anak ikan tersebut akan berenang menari-nari didalam air sebagai umpan bagi ikan pemangsa yang lebih besar, terutama ikan baung, bince dan kebaro. 

  Dari sore menjelang malam nelayan memasang joran tautnya di sepanjang tepian barumun. Setelah  semua terpasang,  sang nelayan beristirahat sebentar di atas sampannya sambil makan malam. Setelah itu kembali berkayuh memantau setiap joran  yang di tancapkan  tadi, menyusuri taut demi taut di tepi sungai itu. Setiap ada taut yang berhasil mendapat ikan, sang nelayan menangguknya ke atas sampan.

    Begitu terus hingga tak terasa waktu berjalan   menjelang pajar, sang nelayan akan pulang membawa hasil tautan berbagai jenis ikan, terutama baung yang akan dijual ke pasar ikan tradisonal. Namun, sebelum sampai ke pasar, terkadang  sudah banyak calon pembeli yang menunggu mereka di tangkahan.

    Bayangan pahit getirnya pekerjaan menaut memang sulit terlukiskan. Betapa tidak, dengan sarana sederhana serta bekal seadanya, sang nelayan mesti bekerja mencari nafkah dengan berkayuh sepanjang malam menyusuri  sungai.  Sementara istri dan anak-anaknya menanti sembari berdoa agar suami dan ayah mereka berhasil mendapat hasil ikan yang banyak.

    Demikian sekelumit  sisi kehidupan nelayan tradisonal yang menaut di malam hari di sungai barumun Kotapinang. Kendati kehidupannya cukup menggetirkan, namun seakan sudah menjadi suratan tanpa banyak mengeluh tetap bertahan dengan ketradisionalannya. Meski tinggal segelintir yang menggelutinya,  Kegetiran hidup dan lingkungan sungai yang seolah tak seperti dulu lagi tak menyurutkan nyali mereka terus  menekuni pekerjaan menaut. ***

sungai barumun
sungai barumun

kotapinang
pemandangan sungai barumun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar